Logo SantriDigital

Bahaya Lisan di Dunia Maya (Fikih Media Sosial) Mengingat murid sekolah sangat aktif di platform digital. Intisari: Setiap ketikan dan komentar akan dihisab oleh Allah. Poin Utama: Menghindari cyber-bullying, tidak menyebarkan aib orang lain, dan mengguna

Khutbah Jumat
H
Henny Purnianto
3 Mei 2026 4 menit baca 0 views

أَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا ش...

أَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Bapak-bapak, Ibu-ibu, Saudara-saudara sekalian yang dimuliakan Allah, Duduklah sejenak di hadapan mimbar ini, tataplah dengan hati yang bersih, dan dengarkanlah seruan yang terucap lillahita'ala. Marilah kita renungi bersama sejenak, betapa cepatnya waktu berlalu, betapa dekatnya kematian itu menghampiri. Di era digital yang serba cepat ini, di mana setiap jari memiliki kekuatan untuk merangkai kata, dan setiap layar dapat memuat berbagai percakapan, timbul sebuah pertanyaan besar dalam hati kita: sudahkah lisan kita, atau lebih tepatnya, tulisan kita di dunia maya, terjaga dari dosa dan murka Allah? Kita hidup di zaman di mana berita menyebar secepat kilat, di mana informasi mengalir tanpa henti melalui jari-jemari yang menari di atas *keyboard*. Gawai di genggaman tangan seolah telah menjadi perpanjangan dari diri kita, menjadi saksi bisu atas setiap detik yang kita lewati. Namun, kerap kali kita lupa, bahwa di balik setiap ketikan, di balik setiap komentar, bahkan di balik setiap ‘like’ yang kita berikan, ada Allah Yang Maha Melihat, Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, sekecil apapun itu. Dosa yang tergores di dunia maya, akan tercatat dan dihisab di alam akhirat kelak. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an yang mulia: "مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ". (Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.) (QS. Qaf: 18) Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Betapa banyak saudara kita, khususnya para pelajar yang kita cintai, yang begitu aktif di platform digital. Mereka menyapa dunia lewat status, berbagi cerita lewat unggahan, dan berinteraksi melalui kolom komentar. Namun, seringkali, tanpa disadari, lisan virtual ini menjadi senjata yang begitu mengerikan. *Cyber-bullying*, perundungan dalam dunia maya, telah menjadi luka menganga. Kata-kata tajam yang terucap dari jari-jemari kita, dapat menghancurkan hati yang rapuh, merenggut rasa percaya diri, bahkan mendorong seseorang pada jurang keputusasaan. Ingatlah sabda Rasulullah SAW: "الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ". (Seorang Muslim sejati adalah orang yang kaum Muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.) (HR. Bukhari & Muslim) Maukah kita menjadi bagian dari orang-orang yang tangannya, bahkan lisan virtualnya, menyakiti sesama? Maukah kita kelak di hadapan Allah, diperlihatkan tumpukan dosa dari setiap kata yang menyakitkan itu? Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Selain *cyber-bullying*, dosa besar lainnya yang seringkali luput dari perhatian kita adalah menyebarkan aib atau keburukan orang lain. Dengan mudahnya kita mengomentari atau membagikan sesuatu yang membuka rahasia serta kejelekan pribadi seseorang. Padahal, Allah SWT sangat membenci perbuatan ini. Menutup aib seorang mukmin adalah kemuliaan yang Dia janjikan di dunia dan akhirat. Malulah kepada Allah, jika kita telah menjadi penyebar fitnah, pencari-cari kesalahan, dan pembuka kedok pribadi orang lain. Bukankah kita sendiri memiliki banyak kesalahan yang berharap ditutup oleh Allah? Rasulullah SAW bersabda: "لَا تَجَسَّسُوا وَلَا تُحَسِّسُوا وَلَا تَنَافَسُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا". (Janganlah kalian saling memata-matai, janganlah saling mencari-cari kesalahan, janganlah saling berlomba dalam urusan dunia, janganlah saling mendengki, janganlah saling membenci, janganlah saling membelakangi, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.) (HR. Bukhari) Lihatlah, betapa indahnya ajaran Islam ini, mengajak kita untuk saling menjaga, bukan saling menjatuhkan. Lisan kita di dunia maya, seharusnya juga terpancar dari jiwa yang mulia ini. Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Apakah kita harus menjauhi dunia maya sama sekali? Tentu tidak. Dunia digital ini menawarkan begitu banyak peluang kebaikan. Bagaimanakah kita memanfaatkan teknologi ini untuk menyebarkan cahaya Islam? Bukankah ini adalah kesempatan emas untuk berdakwah kreatif? Kita bisa berbagi ilmu agama yang benar, menginspirasi kebaikan, memberikan solusi, atau sekadar menebar senyum kebahagiaan yang tulus melalui kata-kata yang indah dan positif. Jadikan jemari Anda sebagai juru dakwah yang bijak, yang menebar Rahmat, bukan murka. Allah SWT berfirman: "ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ". (Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.) (QS. An-Nahl: 125) Mari kita jadikan setiap postingan, setiap komentar, setiap percakapan di dunia maya sebagai amal jariyah yang membawa keberkahan bagi kita dan orang lain. Jaga lisan virtual Anda dari fitnah, ghibah, dan permusuhan, karena setiap ketikan adalah pertanggungjawaban di hadapan Sang Pencipta. Mari kita jadikan diri kita sebagai lentera di kegelapan internet, memancarkan cahaya kebaikan, ilmu, dan cinta Allah. Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Marilah kita berlomba-lomba dalam kebaikan, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Sadarlah, wahai diri, bahwa umur kita semakin menipis, dan pertanggungjawaban di hari kiamat semakin dekat. Air mata penyesalan tidak akan berguna di saat hisab nanti. Di dunia maya ini, jangan sampai lidah kita menjadi saksi bisu yang memberatkan timbangan keburukan kita. Astaghfirullahaladziim… بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →